Selasa, 29 April 2014

Kecerdasan emosional dan Leadership - Interpersonal Skill

   Dalam setiap interaksi manusia, kecerdasan emosional sangatlah penting. Maka, rendahnya kecerdasan emosional bisa berakibat fatal. Dalam kisah di atas, kalau saja utusan tersebut memahami perasaan bos Petronas yang bangga akan koleksinya, tentu pembatalan kontrak tersebut tidak terjadi.
Leadership is all about relationship, sedangkan membangun dan merawat relasi/hubungan dengan baik dibutuhkan kecerdasan emosi. Karena itu, seorang pemimpin tanpa kecerdasan emosi yang baik akan sulit mendapatkan kepercayaan pengikutnya, bahkan mereka mungkin menjauhinya. Karena itu, mustahil membangun kepemimpinan efektif tanpa adanya kecerdasan emosi.

     Menurut Shankman dalam “Emotionally Intelligent Leadership” (2008), ada tiga kesadaran yang harus dilatih para pemimpin yang ingin mengembangkan kecerdasan emosionalnya: kesadaran akan diri, kesadaran akan orang lain, dan kesadaran akan konteks. Kesadaran akan diri menuntut kamu jujur mengenali emosi diri. Kesadaran akan orang lain mengharuskan kamu memperhatikan karakter setiap anggotamu atau pemimpinmu dalam organisasi. Kesadaran akan konteks menuntut kamu mengenali lingkungan, budaya ataupun norma tempat kamu bekerja.

     Untuk mempermudah, mari kita bayangkan sebuah tim sepak bola. Sang pelatih sebagai pemimpin tim harus memiliki kesadaran akan diri, kesadaran akan orang lain (dalam hal ini tim sepak bola tersebut) dan kesadaran akan konteks (peraturan, tim lain, tempat, musim pertandingan, dan lain sebagainya). Pelatih sebagai pemimpin tim hanyalah satu dari tiga faktor kecerdasan emosional.
Banyak orang tidak memiliki kesadaran akan orang lain dan konteks. Hal itu membuat mereka gagal memimpin, karena mereka berpikir bahwa cara memimpin yang sama di masa lalu bisa diterapkan pada masa kini. Biasanya orang tersebut mulai menyalahkan keadaan atau menyalahkan anggotanya. Dengan memiliki kesadaran akan diri, orang lain dan konteks seorang pemimpin mudah membagi nilai dan visi kepada anggota-anggotanya, karena mereka memahami bagaimana cara menyampaikan nilai dan visi tersebut kepada para anggota, terlebih sekadar meminta partisipasi anggota-anggotanya. Karena itu, kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor kepemimpinan efektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar